Banyuwangi — Suasana berbeda tampak di gerbang depan Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (UNIIB) pada Sabtu sore (14/3). Mahasiswa dan dosen Program Studi Tadris Matematika turun langsung ke jalan untuk membagikan takjil kepada para pengguna jalan. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Matematika Internasional yang juga dikenal sebagai Hari Pi atau Hari Matematika Internasional (International Day of Mathematics), yang diperingati setiap tanggal 14 Maret, dan pada tahun 2026 ini mengusung tema “Matematika dan Harapan”.
Momentum tersebut terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Bagi civitas akademika Prodi Tadris Matematika UNIIB, perpaduan antara peringatan Hari Pi dan ibadah puasa menjadi simbol harmoni antara ilmu pengetahuan dan nilai spiritual. Layaknya bilangan π (pi) yang tak pernah berakhir, semangat berbagi dan kebaikan juga diharapkan terus mengalir tanpa batas kepada sesama.
Dalam kegiatan tersebut, puluhan paket takjil dibagikan kepada pengendara dan masyarakat yang melintas di depan kampus. Mahasiswa tampak antusias menyapa masyarakat dengan senyum dan salam, menghadirkan suasana kebersamaan menjelang waktu berbuka puasa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sarana refleksi bahwa ilmu matematika dapat memiliki makna yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Program Studi Tadris Matematika UNIIB, Alex Haris Fauzi, M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mengandung pesan filosofis yang menghubungkan matematika dengan nilai-nilai Ramadan. Menurutnya, matematika sering dipahami sebagai ilmu tentang angka, rumus, dan logika. Namun di balik itu, matematika juga mengajarkan prinsip keseimbangan, ketepatan, dan keteraturan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan makna ibadah puasa yang mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, serta keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan spiritual.
“Jika dalam matematika kita mengenal konsep keteraturan dan keseimbangan, maka Ramadan juga mengajarkan hal yang sama dalam kehidupan manusia. Puasa melatih kita untuk menata diri, menahan keinginan, serta memperbanyak kebaikan. Kegiatan berbagi takjil ini adalah salah satu cara kami menghubungkan nilai keilmuan dengan praktik kemanusiaan,” ujar Alex Haris Fauzi.
Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan ini mahasiswa tidak hanya belajar matematika secara teoritis di ruang kelas, tetapi juga memahami bagaimana ilmu tersebut dapat melahirkan sikap peduli dan empati kepada masyarakat. Dengan semangat Ramadan dan inspirasi dari Hari Pi, Tadris Matematika UNIIB berharap tradisi berbagi ini dapat terus berlanjut sebagai bagian dari budaya akademik yang humanis dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. (Tamaamy2026)
